L i f e h e r e q u i t e f u n

Surga Bagiku

 Surga bagiku adalah seperti mengenakan matahari di seputar kepala bagai sebuah kalung
Surga bagiku adalah apabila orang merasa bahwa aku menjalin hubungan dengan bintang-bintang dengan bulan-bulan, yang akrab maupun tidak dengan langit biru atau berwarna yang lain
Surga adalah tempat di mana memeluk itu berarti membesarkan hati dan membuai
Surga adalah tempat di mana pelukan merupakan pembukaan yang lembut untuk diri sendiri dan bukan untuk memiliki
Surga adalah tempat di mana membuai dan membuka diri tidak ada hubungannya dengan kekuasaan, ketakutan kerentanan dan kepiluan , Fatima Mernissi, 1996 setara dihadapan Allah, Yogyakarta

Nasihat Sahabat

Duhai saudariku yang mulia akhlaknya,,
Lakukan dimanapun dan kapanpun untuk menjadi menawan, menajadi hamba pilihan dengan bermanfaat untuk orang lain (sebaik-baiknya hamba adalah yang bermanfaat bagi orang lain) lakukan sesuatu karena Allah, luruskan niat anti setiap melangkah...
Ciptakan kehadiran anti seperti udara (oksigen), orang akan merasa tenang, aman nyaman ketika anti ada, namun akan merasa sesak ketika anti tidak tiada...
Lakukan seperti air, orang akan mencarinya ketika dahag, merasa segar setelah didekatkan merasa gersang ketika jauh darinya dan menyimpannya karena membutuhkan.. lakukan sperti matahari yang selalu menerangi bumi, menghangatkan suasana pagi...
Istiqomalah seperti jam dinding, siang malam gerakannya sama walaupun tiada yang melihat...
optimislah, karena Allah akan berserta orang-orang yang bersih hatinya...
Saudariku, janganlah bersedih hati dan bingung, karena ada Allah yang selalu mengawasi kita, Dialah tempat sebaik-baiknya mengadu...


Ya Allah berikan kebaikan bagi hamba, agar selalu berada ditengah orang-orang sholeh...

Mencintai Sejantan Ali


Kalau cinta berawal dan berakhir karena Allah,
maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta padaNya,
pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki:
selamanya memberikan apa yang bisa kita berikan,
selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai…

- M. Anis Matta -
Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak terkisahkan pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, putri tersayang dari sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ‘Abdullah Sang terpercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!
Maka gadis itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada sang nabi tiba-tiba diam. Fatimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!
‘Ali tak tau apakah perasaan itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fatimah dilamar oleh seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tidak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, radhiyallahu ‘anhu
‘Ali merasa diuji karena terasa apalah ia dibanding dengan Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ‘Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan Rasul-Nya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bark menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ‘Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan da’wah Abu Bakr; ‘Ustman, ‘Abdurrahman Ibn ‘Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakuakn kanak-kanak kurang pergaulan seperti ‘Ali. Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ‘Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ‘Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaAllah lebih bisa membahagiakan Fathimah. ‘Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.
“Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ‘Ali. “Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”
Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.
Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ‘Ali terus menjaga semangatmya untuk mempersiapkan diri.
Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. ‘Umar ibn Al-Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah.
‘Umar memang masuk Islam belakangan, setelah 3 tahun setelah ‘Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dasyat yang hanya ‘Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ‘Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata,” Aku datang bersama Abu Bakr dan ‘Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ‘Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ‘Umar..” Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.
Lalu bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ‘Umar melakukannya. ‘Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan Rasul. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari ia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi. ‘Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. “Wahai kaum Quraisy”, katanya. “Hari ini putera Al-Khaththab akan berhijrah. Barang siapa yang ingin istrinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ‘Umar dibalik bukit ini!”
‘Umar adalah lelaki pemberani. ‘Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulullah! Tidak! ‘Umar jauh lebih layak. Dan ‘Ali ridha.
Mencintai tak berarti harus memiliki. Mencintai berarti pengorbanan untuk kebahagiaan orang yang dicintai. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan, itulah keberanian. Atau mempersilakan, itulah pengorbanan.
Maka ‘Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ‘Umar juga ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti Ustman sang miliaderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ‘Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh berbeda dengannya. Di antara muhajirin hanya Abdurrahman ibn ‘Auf yang setara dalam harta dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ‘Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?
“Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman ansharnya itu membangunkan lamunan. “Mengapa engkau tak coba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu baginda Nabi..”
“Aku?”, tanyanya tak yakin.
“Ya. Engkau wahai saudaraku!”
“Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
“Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”
‘Ali pun menghadap Sang Nabi, maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya.
Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantinya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang. “Engkau pemuda sejati wahai ‘Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggung jawab atas rasa cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.
Lamaran berjawab, “Ahlan wa sahlan!”. Kata itu meluncur tenang bersama senyum sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabipun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko.
Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.
“Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
“Entahlah..”
“Menurut kalian apakah ‘Ahlan wa sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
“Satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wasahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”
Dan ‘Alipun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ‘Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. ‘Ali adalah gentlemen sejati. Tidak heran jika pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tidak ada pemuda kecuali ‘Ali.”
Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan disini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ‘Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah Pengorbanan. Yang kedua adalah Keberanian. Dan bagi pecinta sejati, selalu ada yang manis dalam mengecap keduanya. Di jalan cinta para pejuang, kita belajar bertanggung jawab atas setiap perasaan kita…

Sumber: https://www.facebook.com/notes/agrydzadana-frisa/mencintai-sejantan-ali/10151569067630119

Trully Means of Love


Dunia Cinta
Wahai insan…
Cinta itu memang bukan sesuatu yang mudah kita hampiri ketika ia datang dan bukan pula sesuatu yang mudah jika kita simpan, pada intinya jalan keluar yang baik terhadap Perasaan Cinta yang datang ataupun tersimpan dalam hati tetap menjadikan kita baik dan sebaik-baiknya Cinta adalah ketakwaan kita kepada Sang Maha Pecinta , karena hanya dari-Nya kita bisa mendapatkan Cinta yang hakiki..
Tulisan yang akan saya tulis ini adalah cerita yang saya ambil dari sebuah buku, dari orang ke orang yang baik yang telah menjadi perantaraNya untuk memberikan perkataan yang ditunjukan kedalam hati saya yang paling dalam. Semoga kebaikan dari Allah Swt. menjadi balasan yang paling baik bagi orang-orang baik itu. Amin
Amr Khaled, Indahnya menjadi kekasih Allah. Darul Ikhsan 1428 H.
Sebelumnya kepada penulis, Terima kasih telah menulis sesuatu yang indah yang bisa menjadi pesan bagi para Insan yang lain. Maka izinkan saya untuk berbagi karya Anda kepada yang lainnya.
Dunia Cinta
Kepada setiap orang yang telingannya mau mendengar perkataan
Yang matanya siap menatap penyesalan
Yang Hatinya selalu bergetar penuh ketakwaan
Sebuah karya tentang sekumpulan cinta rabbani dan kisah percintaan manusia

Wahai Saudaraku, engkau pasti telah tahu awal keberadaan manusia dimulai sejak Allah SWT. menciptakan Nabi Adam AS.  Selain itu, menyusul diciptakan  Hawa dari tulang rusuk Adam yang tengah terlelap-sebagian ulama mengatakan bahwa Allah SWT sengaja memilih waktu tersebut dengan maksud agar Adam tidak merasa kesakitan. Maka, ketika Adam akhirnya terbangun dan melihat Hawa dari tulang rusuk Adam SWT sengaja memilih waktu tersebut dengan maksud agar Adam tidak merasa kesakitan. Maka, ketika Adam akhirnya terbangun dan melihat Hawa, segera saja hatinya terpesona hingga melupakan betapa sulitnya suatu proses penciptaan.  Sementara, hati perempuan sedikit berbeda. Dia tidak akan “Terpesona” ketika melihat anak-anaknya. Meskipun perempuanlah yang melahirkan mereka. Mengapa? Karena ketika melihat mereka, perempuan itu sadar akan sakitnya proses suatu persalinan.
Adapun penciptaan Hawa yang berasal dari tulang rusuk Adam merupakan pertanda bahwa perempuan akan selalu berurusan dengan laki-laki; sebagaimana tulang rusuk yang mengelilingi hati untuk menjaga dan melindunginya. Itulah mengapa perempuan-entah sebagai saudara, istri atau anak-akan mampu berurusan dengan hati, pada tingkatan pertama, dengan nalurinya. Sedangkan penciptaan laki-laki berasal dari tanah merupakan pertanda bahwa dia akan senantiasa berurusan dengan masalah pertanian, industry dan perdagangan.
Ketahuilah, wahai Saudaraku, sesungguhnya Hawa diberi demikian karena kata “Hawa” berhubungan dengan kata “Hidup” (Hayy). Artinya, sesuatu yang tercipta dari sesuatu yang hidup, dan bisa membuat hati terasa hidup dan nyaman. Begitulah sekilas pendapat yang mungkin engkau bisa sedikit memahami tabiat perempuan, sehingga bisa bergaul dan menghargai dengan lebih baik.
Keteladanan Cinta Para Nabi
Beberapa contoh teladan dalam hal cinta dan kasih sayang bisa engkau lihat dari sejarah hidup para nabi. Misalnya, Nabi Ibrahim AS yang sangat mencintai Siti Sarah, istri pertamanya. Bayangkan Saudaraku, meski telah menikah selama delapan puluh dan belum juga memperoleh buah hati, tapi cinta nabi Ibrahim AS. Kepada Istrinya tidak pernah luntur. Kesetiannya tetap terjaga. Andai saja bukan karena desakan Siti Sarah, yang memaksa agar suaminya mempersunting Siti Hajar, niscaya Nabi Ibrahim AS tidak mau menikah lagi demi menjaga perasaan istrinya tesebut.
Adapun conto cinta teladan lain adalah yang ditunjukkan Nabi Muhammad SAW. Saat itu, ‘Amr bin Ash baru saja pulang berperang dengan membawa kemenangan. Tentu saja kedatangannya disambut gembira oleh Rasulullah SAW, sehingga membuat. ‘Amr bin Ash tak tahan untuk mengajukan sebuah pertanyaan.
“Siapa orang yang paling engaku cintai, wahai Rasulullah?” tanya’Amr bin Ash.
Rasulullah segera menjawab, “Aisyah, Istriku.”
Merasa tidak puas, ‘Amr bin Ash kembali bertanya, “Maksudku, siapa yang paling engkau cintai dari golongan laki-laki?”

“Mertuaku, ayah Aisyah,” jawab beliau pasti.
Wahai Saudaraku, dari jawaban tersebut tentu engkau sudah bisa menebak kepada siapa cinta Rasulullah SAW diberikan. Ketahuilah, sesungguhnya beliau memberikan jawaban itu dengan santai dan spontan, tanpa direncanakan terlebih dahulu.
Menghargai kebaikan Istri
Seorang sahabat bermaksud menghadap Khalifah Umar bin Khatab untuk mengadukan istrinya yang berani berteriak di hadapannya. Saat tiba di kediaman Khalifah, dia mendengar istri Khalifah, dia mendengar istri khalifah bersuara keras data berbicara kepada suaminya. Sahabat…
To be Continue….


Be better, Insha Allah



Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang Telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[263] Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain[264], dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu. An Nisa:1 

Dan jika mereka bermaksud menipumu, Maka Sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin, An Anfal 62

Hai nabi, Katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu: "Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang Telah diambil daripadamu dan dia akan mengampuni kamu". dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. An Anfal: 70

Sesudah itu Allah menerima Taubat dari orang-orang yang dikehendakiNya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. At Taubah:27

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui. At Taubah:41
Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan Bersabarlah hingga Allah memberi Keputusan dan dia adalah hakim yang sebaik-baiknya. Yunus:109

Muslimah Anggun (End year Masehi Repost)

Sesungguhnya tulisan ini banyak di revisi,
Pada intinya adalah saya memohon ampunan, semoga bisa menjadi lebih baik lagi,di tahun yang akan datang, dan bermanfaat bagi orang banyak. Amin.
Cukup sudah saya memboroskan waktu...
Tahun 2012, banyak hal baru yang saya rasakan baik itu "c", i cant spell this word, sudah cukup rasanya saya merasakannya untuk itu, banyak hal yang menjadikan saya kuat pada tahun ini tentunya dari hal itu, ada kutipan yang mengatakan "Wanita  yang jatuh bangun karena masalah "c", i cant spell this word akan tumbuh menjadi Wanita yang kuat dan sukses, dan aku yakin itu". dan sebelumnya maafkan aku karena itu.

Saya katakan ingin saya, bahwa Saya ingin menjadi muslimah yang baik dan menyeluruh.

2012, menjadi analisis saya bagi diri saya sendiri mengenai kelemahan yang saya harus perbaiki, kekuatan yang saya harus kembangkan dan konsistensi dalam menjalani hidup, Conclusionnya adalah Saya harus fokus pada tujuan awal saya.

Banyak pengalamaan baru yang tentunya saya tidak dapat lupakan, karena pengalaman adalah guru bagi saya, tapi jangan jadikan pengalaman sebagai guru. Semoga pembaca mengerti maksud dari kutipan tersebut.
Bertemu orang-orang hebat, berpengalaman, berpendidikan dan juga yang sebaliknya, menjadikan diri saya dapat mengukur diri saya bagaimana untuk menjadi lebih baik, karena untuk menjadi lebih baik, tidak melulu harus melihat dari sudut yang baik, tapi jadikan sudut yang baik itu menjadi patokan kita untuk menjadi baik.


Manusia itu sempurna, dengan kata lain sempurna karena memang kita diciptakan sempurna oleh Allah swt. hanya saja kadang manusia itu sendiri yang tidak mengerti kesempurnaan yang dimiliki untuk digunakan dan bersyukur atas kesempurnaan yang dimiliki bukan hanya dengan berdoa, tapi dengan perbuatan, pemanfaatan, pemeliharaan dan penjagaan sebaik mungkin.

2013, Kemantapan dari tujuan saya harus dijalankan, tentunya dengan Allah disisi, doa saya "Ya Allah, Hamba Berusaha dan Berjuang, Namun jangan biarkan hamba lakukan sendiri tanpa Mu, tetaplah disisiku, cintai aku, jangan biarkan aku lewat dari yang engkau perintahkan, aku tahu bahwa kau akan selalu disisi, membantuku, melindungiku dan menyemangatiku, tapi aku ingin tetap meminta, karena hanya kepada Engkaulah tempat kami meminta dan kembali" Amin.


Semakin terkesan dengan kutipan Darwis Tere Liye:

Semua perempuan adalah Puteri. Mau hitam, putih, cokelat kulitnya. Mau panjang, keriting, pendek rambutnya. Mau hitam, biru, abu-abu matanya. Mau pendek, tinggi. Mau apapun. Semua adalah puteri dengan perangai yang terhormat.

Jadi, jagalah kehormatan diri sebagaimana seorang Puteri. Dia hanya berjodoh pada Pangeran yang baik hatinya serta selalu melindungi--seperti dalam cerita2 dongeng itu. Maka jangan terlalu mudah digombali, terpesona dengan tampilan fisik, rayuan dangkal, apalagi sekadar perhatian2 kecil di dunia maya. Dan ingat, tidak ada Puteri yang mau diajak pergi berdua2an, dipegang2, direndahkan secara fisik.

*repost edisi sore2
*sedikit tambahan

Mohon maaf dengan diri sendiri, dan Allah selalu menyentuh kalbu ini dengan mempesona, wanita anggun memelihara dirinya, memperbaiki dirinya,
Tidak menapakan lehernya,tidak menunjukan telapak kakinya, menjaga pandanganya, terus memperbaiki dirinya..
Wanita anggun atau putri yang pernah terluka hatinya akan memperbaikinya, itu baik. Menjadi wanita yang kaffah, kuat, meskipun hatinya sedikit terkoyak. Wanita anggun itu, selalu dilindungi, meski mahligai godaan diluar sedikit menggodanya. Wanita anggun yang pernah mengalami sakit, itu menjadi mengetahui bagaimanamu, ihsan..
Wanita anggun itu , Insya Allah menjadi baik, karena Allah selalu mencintainya dan semakin mencintainya ketika tangisnya..
Duhai Ihsan, jagalah kata-katamu dari wanita anggun..
Duhai Ihsan, bersungguh-sunggulah, janganlah jadi plin-plan dengan kata-katamu, keanggunan sang putri yang sesungguhnya tak kan kau dapatkan  jika kau begitu..

Nice people :)

When i was graduate in State Islamic University of Jakarta, with lovely mom and sista, My lovely Dady was with my nephew over there, so He didnt taken on this pic love u all :") and thanksomuch! :")

 With Sis Amalia Husna, wonder woman , She still spend her master in Trisakti University.

With Prof Abbas , where was galla dinner  in Bank Indonesia, Pekanbaru,. It was precious, because i taken in when i wear batik :)
with Great Friends when KKN 2011:)

with 28 Finalists 1ST ISEFRF 2012, Its wonderfull experiance, :"))

With Committe of FRPS V Makasar, Great, Humble, and Excelent, nvr frget :)

and The last, but be always first moment ,  never forget :), we love you all, WD

 
Powered by Blogger